CERPEN TENTANG PENDIDIKAN

Diposkan oleh Tuan Kholil on Jumat, 12 April 2013


CERPEN TENTANG PENDIDIKAN

JUDUL: PUTIH ABU - ABU


Prita adalah siswi kelas XI di SMA Harapan Kita. Sejak awal memasuki bangku SMA, Prita telah memiliki seorang sabahat yang bernama Jessi. Mereka berdua selalu bersama pada setiap kesempatan. Bahkan tidak jarang mereka saling menginap dan belajar bersama. Kebersamaan mereka juga terlihat dalam setiap kegiatan ekstra kurikuler serta kegiatan ilmiah yang sering diadakan oleh pihak sekolah. Tidak heran bila guru dan teman - temannya mengenal mereka sebagai sosok siswa yang rajin dan berprestasi. Suatu hari, sekolah mengadakan seleksi Siswa Teladan yang nantinya akan mewakili sekolah ke tingkat Kabupaten. Seperti biasa, Prita dan Jessi pun mengikuti seleksi. Namun dari awal mereka telah sepakat bahwa siapapun nanti yang dinyatakan lolos tidak akan membuat persahabatan mereka retak. Untuk menghadapi seleksi Siswa Teladan, mereka bahkan belajar bersama dengan saling tukar inforasi mengenai berbagai referensi yang mereka dapatkan.

Para siswa lainnya pun tidak kalah heboh mempersiapkan diri menghadapi seleksi Siswa Teladan ini. Ajang Siswa Teladan memang merupakan sebuah ajang bergengsi yang paling ditunggu siswa SMA Harapan Kita. Dalam 5 tahun terakhir, SMA Harapan Kita telah berhasil menyabet juara I sehingga tahun ini pun para siswa dan juga guru ingin mempertahankan predikat Juara I yang telah 5 tahun berturut - turut mereka dapatkan. Ajang ini tidak hanya menyaring kemampuan siswa dalam bidang akademik saja, namun juga menyaring prestasi non akademik yang dimiliki oleh siswa. 

Akhirnya hari H seleksi penyaringan Siswa Teladan pun tiba. Prita dan Jessi pun bergegas menuju ke aula sekolah untuk mengikuti acara tersebut. Hari ini, seleksi bidang akademik dilakukan di hall sekolah. Ada sekitar 20 siswa yang mengikuti ajang seleksi ini. Semua bidang studi pun diujikan di sini. Karena telah siap, Prita dan Jessi sama sekali tidak terlihat grogi. Dengan tampak percaya diri, mereka mengerjakan semua soal dan keluar 15 menit lebih awal dari waktu yang telah ditentukan. Di luar hall, mereka berdiskusi tentang soal - soal yang mereka kerjakan tadi. Terkadang merak tampak tersenyum senang, tertawa terbahak bersama, atau nahkan nyengir saat mereka tahu bahwa jawaban mereka salah. 3 jam kemudian, acara sekelsi Siswa teladan pun dilanjutkan kembali. Kali ini tes non akademik yang dilakukan berdasarkan mnat serta bakat yang dimiliki oleh masing - amsing siswa. Karena emiliki minat dan bakat yag berbeda, Prita dan Jessi pun berpisah. Prita menuju ruang olahraga dan Jessi menuju ruang musik.

Setelah seharian mengikuti acara seleksi Siswa Teladan, menjelang sore pengumuman tentang siswa yang akan mewakili SMA Harapan Kita ke seleksi Siswa Teladan tingkat Kabupaten akan segera diumumkan. Berdasarkan jumlah nilai yang terbanyak, akhirnya Jessi-lah yang berhak mewakili sekolah ke ajang bergengsi tersebut. Mendengar hasil pengumuman tersebut, sontak Jessi dan Prita berpelukan dan Prita pun berjanji bahwa ia akan selalu emnsupport dan mendampingi Jessi dalam menghadapi ajang seleksi Siswa Teladan.
Filosofi Pendidikan
Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti dilakukan banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.
Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Fungsi Pendidikan
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes). Mempersiapkan anggota masyarakt untuk mencari nafkah, fungsi laten lembaga sebagai wadah pendidikan, melalui pendidikan di sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan danya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Memilih dan mengajarkan peranan sosila.

Faktor Tujuan Pendidikan
Di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu "Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Sesungguhnya faktor tujuan bagi pendidikan adalah:
  1. Sebagai Arah Pendidikan, tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya. 
  2. Tujuan sebagai titik akhir, suatu usaha pasti memiliki awal dan akhir. Mungkin saja ada usaha yang terhenti karena sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan berakhir. Pada umumnya, suatu usaha dikatakan berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai. 
  3. Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain, apabila tujuan merupakan titik akhir dari usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.   
  4. Memberi nilai pada usaha yang dilakukan.